Nur Rahmaniah
REPUBLIKA.CO.ID, SOUTHAMPTON - Carolyn Gibbons (23 tahun) menderita sakit yang cukup langka. Sejak bulan Maret lahun lalu, ia mengalami malformasi otak. Guru muda ini mengalami gangguan neurologis. Dokter memperingatkan ia bisa mati jika tertawa terlalu keras. Tertawa dengan keras bisa mendorong otaknya keluar dari tengkorak.
Ia divonis mengalami kondisi yang disebut Chiari malformasi, yang berarti bagian bawah otaknya terlalu besar. Hal ini dapat memblokir aliran cairan ke kepalanya melalui kanal tulang belakang. Gerakan tubuh yang menghentak seperti tertawa dapat meningkatkan resiko kematian mendadak.
Carolyn awalnya berpikir kondisi yang dialaminya tak terlalu berbahaya. "Saya pikir obat bisa mengendalikan sakit saya. Tapi gejala yang semakin buruk membuat saya sadar ternyata otak saya lebih besar dari tengkorak," ujar dia.
Ia tak bisa berlaku seperti orang normal. Tiap gerakan mencolok yang ia lakukan dapat menyebabkan rasa sakit yang mengerikan dan dapat menyebabkan otak terdorong keluar dari tengkorak, dan herniate masuk ke dalam tulang belakang.
Ia baru menyadari kondisi yang dialaminya saat ia pingsan dari sekolah, akhir Maret lalu. Ia mengalami sakit kepala yang luar biasa. Setelah diperiksa melalui scan otak, barulah ia tahu ada bagian tertentu dari otaknya yang memiliki ukuran tidak wajar. Untuk mengontrol rasa sakit, ia harus meminum 50 pil sehari.
Pekerjaannya sebagai guru terpaksa harus ia tinggalkan agar kondisinya tidak memburuk. Carolyn akhirnya menjalani operasi pada 29 Juli. Ahli bedah 'membuang' sedikit bagian dari tulang belakang dan tengkorak seluas 2,5 cm persegi untuk membuat ruang lebih untuk ukuran otaknya.
Akibat operasi itu, ia kini mengalami alergi medis terhadap bagian yang digunakan untuk menutup lubang di tengkoraknya. Dia sekarang menderita insomnia ekstrim. Ia bisa tidak tidur selama 60 jam. Sebuah kantung cairan juga masih tersisa di tulang punggungnya. Ia memerlukan operasi lain untuk mengeringkan cairan tersebut agar hidup normal. "Saya hanya berharap ada operasi lain sehingga saya bisa tertawa tanpa ada resiko kematian," ujar dia. Yang dialami oleh Carolyn adalah kasus langka. Terjadi dengan perbandingan satu dari 1.000 orang.
Nur Rahmaniah
SOICHIRO HONDA : "Lihat Kegagalan Saya"

Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata
Anda selalu
terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk
kendaran ini
menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki "raja
jalanan".

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri "kerajaan" Honda -
Soichiro Honda -
diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur,
lebih-lebih
Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia
bukan siswa
yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah
di depan,
selalu menjauh dari pandangan guru. "Nilaiku jelek di sekolah.
Tapi saya
tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan
sepeda," tutur
tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat
di RS
Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever.

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi
kegagalan. Ia sempat
jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia
trus bermimpi
dan bermimpi...

Kecintaannya kepada mesin, mungkin 'warisan' dari ayahnya yang
membuka
bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko,
Jepang Tengah,
tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi
cathut (kakak
tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat
penggilingan padi
melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.

Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam
diri
berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil,
hanya ingin
menyaksikan pesawat terbang.

Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya
12 tahun, Honda
berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem
kaki. Tapi,
benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar
berasal dari
keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan,
sehingga membuatnya
rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda bekerja Hart Shokai Company.
Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya.
Honda teliti dan
cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan,
setiap oli yang
bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja
disitu, menambah
wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun,
bosnya
mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu.
Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu
menerima reparasi
yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki
mobil
pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya
larut malam,
dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif. Pada
zaman itu,
jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam
goncangan. Ia
punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam.
Hasilnya
luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke
seluruh dunia. Di
usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.

Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari
bosnya, membuat
usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang
dipilih?
Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan
oleh
bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu
ditolak oleh
Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya
tidak lentur,
dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap
kegagalan
itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.

Kuliah

Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua
bulan kemudian,
kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya.
Tapi, soal Ring
Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban,
ia kuliah lagi
untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari,
setelah pulang
kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan
pengetahuan yang
baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia
akhirnya dikeluarkan
karena jarang mengikuti kuliah.

"Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan,
melainkan
dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan
pengaruhnya, "
ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia
jelaskan
maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan.
Penjelasan ini
justru dianggap penghinaan.

Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak
Toyota
memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik.
Eh malangnya,
niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak
memberikan dana. Ia pun
tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang
untuk
mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang
meletus,
pabriknya terbakar dua kali.

Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan
karyawannya.
Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang
oleh kapal
Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik.
Tanpa diduga,
gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga
diputuskan menjual
pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba
beberapa usaha
lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947,setelah perang Jepang kekurangan bensin.
Di sini
kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda
tidak dapat menjual
mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan
terdesak, ia
memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, "sepeda motor"
- cikal bakal
lahirnya Mobil Honda - itu diminati oleh para tetangga. Mereka
berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.
Disinilah, Honda
kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak
pernah lepas dari
tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan
dunia,
termasuk Indonesia.

Soichiro Honda mengatakan, janganlah melihat keberhasilan
dalam menggeluti
industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang
dialaminya. "Orang
melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak
melihat 99%
kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda
mengalami
kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru dan
berusahalah
untuk merubah mimpi itu menjadi kenyataan.

Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa Sukses itu bisa diraih
seseorang dengan
modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari
keluarga
miskin. Jadi buat apa kita putus asa bersusah hati merenungi
nasib dan
kegagalan. Tetaplah tegar dan teruslah berusaha, lihatlah
Honda sang "Raja
Jalanan" :-)


5 Resep keberhasilan Honda :

1. Selalulah berambisi dan berjiwa muda.

2. Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan
waktu
memperbaiki produksi.

3. Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja
Anda senyaman
mungkin.

4. Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.

5. Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama
Nur Rahmaniah
Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan ikut serta dalam pembicaraan pada Pertemuan Puncak Asia Timur 18 negara di Bali akhir tahun ini. Kepastian ini disampaikan Juru Bicara Deplu AS Victoria Nuland, baru-baru ini.

Menlu Hillary Clinton akan melakukan perjalanan ke Indonesia akhir bulan ini sebagian untuk mempersiapkan bagi partisipasi Presiden Obama untuk pertama kalinya dalam EAS pada November. Seorang pejabat lokal di Bali mengatakan, Pulau Dewata siap menyambut Obama pada 19 November.

Juru bicara Pemerintah Provinsi Bali Ketut Teneng mengatakan, Dubes AS Scot Marciel telah memberitahu pemerintah daerah itu mengenai keinginan Obama menghadiri dialog strategis regional tersebut yang juga mencakup Cina dan Rusia. Itu akan menjadi kunjungan resmi kedua Obama ke Indonesia, tempat ia telah menghabiskan sebagian dari masa kanak-kanaknya pada akhir 1960-an. Ia melakukan kunjungan pertamanya sebagai presiden AS November lalu.

Indonesia akan menjadi tuan rumah pembicaraan regional dalam kapasitasnya sebagai pemimpin ASEAN, kelompok 10 negara yang membentuk EAS yang lebih luas. AS dan Rusia diakui ke EAS yang beranggotakan 18 negara tahun lalu, tapi Obama tidak menghadiri pertemuan para pemimpin itu di Hanoi pada Oktober. Dia mengirim Hillary Clinton untuk menggantikannya.(Ant/ULF)
Nur Rahmaniah
Mendapat undangan dari aktor dunia sebesar Jacky, saya benar-benar bahagia. Ternyata dia mengingat saya dengan baik. Saat itu, saya sedang berada di Malang Jawa Timur, dan langsung memastikan dengan management untuk datang sesuai dengan permintaan Jackie. Padahal ajakannya kurang dari satu minggu sebelum acara. Karena saya diminta untuk perform dengan membawakan sebuah lagu, berjudul Aku Di sini, yang saya rubah liriknya sendiri menjadi Here To Stay.

Setelah semua persiapan beres, termasuk gubahan lirik lagu, saya dan tim saya pun terbang menuju Hongkong. Wow, saat sampai di Hongkong, saya menuju lokasi (Victoria Park), dan langsung bertemu dengan Jacky. Saya disambut begitu hangat olehnya.

Saya benar-benar terkejut, Jacky langsung menanyakan keadaan saya. Dan, dengan siapa saya datang. Dia perhatian banget dan segala yang diperlukan dengan saya, harus langsung bilang kepadanya. Dia benar-benar begitu peduli dan sangat perhatian. Padahal kan dia aktor besar di dunia.

Sampai akhirnya, saya memperhatikan Jacky begitu sibuk wara-wiri di sekitar area. Dia memperhatikan seluruhnya di lokasi, agar tidak kurang satu apapun. Ia begitu semangat dan terlihat hangat dengan orang-orang di sekitarnya. Sampai akhirnya, tibalah pertunjukkan charity tersebut.
Nur Rahmaniah
Helvy Tiana Rosa is one of the 10 most famous female-writers in Indonesia, according to the national news TV station MetroTV, 2009. She is also one of the Top 500 Most Influential Muslims in The World (for Arts and Culture), listed by The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Jordan, and Georgetown University, 2009.

Helvy has been writing poetry and short stories since 1979. She has written more than 40 books. Her short stories have been translated into English, Arabic, French, Germany, Japanese, Swedish, etc.

After completed her bachelor and master's degree in literature from University of Indonesia (UI), Helvy has been teaching literature at Dept. of Indonesian Language & Literary at State University of Jakarta (UNJ). Now she is taking doctoral degree in language education in State University of Jakarta.

Helvy is a member of Majelis Sastra Asia Tenggara (the Southeast Asia Board of Literature) and Vice Chairwoman for the Indonesian chapter of the International League of Islamic Literature. She is also a Director at Lingkar Pena Publishing House. Helvy often represents Indonesia in literary events, both at home and abroad.

In 1991-2001, Helvy worked as a managing editor and then Editor in Chief of Annida Magazine--a famous Islamic teen magazine in Indonesia.

In 1990, she founded Teater Bening, an all-female Islamic teatre Group in Indonesia.

Helvy is the founding member of Forum Lingkar Pena (FLP) a writers group established in 1997. FLP now has more than 7,000 members and until 2008 has published more than 1000 book titles together with more than 50 publishers. FLP has branches in more than 125 cities across Indonesia and abroad.

In 2003-2006 Helvy was a member of the Literary Committee at Dewan Kesenian Jakarta (The Jakarta Arts Council).

Honors and Awards:

2009: SheCAN! Award, Tupperware.
2009: Kartini Award as one of The Most Inspiring Women in Indonesia, by Kartini Magazine
2008: Indonesian Inspiring Woman by Tabloid Wanita Indonesia
2008: Helvy brought Forum Lingkar Pena (FLP), a non profit organization which she established, to get Danamon Award 2008, a national award to recognize individual & groups who have significant contribution to the society.
2008: PKS Award as one of 100 Indonesia's Young Leaders
2008: Bukavu was selected as nominee of Khatulistiwa Literary Award 2008
2008: Award for Distinguished Lecturer by Universitas Negeri Jakarta
2007: Indonesian Woman Icon by Gatra Magazine
2007: Nominee in Indonesian Distinguished Award, in Arts & Culture, from XL
2006: IBF Award as Book Distinguished Person from IKAPI (The Association of Indonesian Publisher)
2006: Eramuslim Award as Literary Distinguished Person
2006: Distiguished Indonesian Islamic Woman by Alia magazine
2004: Award for Distinguished Indonesian Woman by Tabloid Nova and the Ministry for Women Empowerment
2004: Ummi Award, from Ummi Magazine
2002: Lelaki Kabut dan Boneka (Dolls and The Man of Mist) was judged as the best short story collection and won Pena Award
2000: One of Ten Prominent Indonesian Women Figures by Amanah Magazine
2000: 'Jaring-jaring Merah' (the Red Nets) was selected as one of the best short stories in a decade by literary magazine: Horison
1992: "Fisabilillah" won in Iqra National Poetry Contest, judged by HB Jassin & Sutardji Calzoum Bachri, etc.
Nur Rahmaniah



Judul Buku : First Step To be A Writer
Penulis : Darmo Budi Suseno
Penerbit : Cakrawala
Cetakan : Pertama, April 2006
Tebal : 148 hlm
Benarkah menulis itu sulit? Bagi pemula atau orang yang baru memulai terjun ke dunia kata (kepenulisan) bisa jadi demikian. Tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa, “menulis itu mudah”.
Kegiatan menulis sesungguhnya adalah proses mengubah cara ungkap kita yang semula melalui mulut (lisan), kemudian diganti dengan cara ungkap simbolik berupa huruf yang mempunyai makna atau pengertian tertentu. Kita sering menjumpai seseorang ketika bercerita, bertutur atau berargumentasi melalui lisan sangat menarik. Akan tetapi, saat si empunya cerita diminta untuk menuliskan argumentasi atau seluruh provokasinya tersebut, sungguh tidak menarik. Atau sebaliknya, orang yang biasa-biasa saja dan sangat pendiam tetapi ketika diminta menulis, hasilnya tulisan yang mengalir, berisi dan mengagumkan.
Menulis tak ubahnya bentuk keterampilan (skill) yang lain. Artinya semakin diasah, semakin bagus pula hasilnya. Proses menulis lebih banyak melibatkan berbagai aspek dalam diri seseorang dibandingkan dengan proses bicara (oral). Jika kegiatan berbicara prosesnya dimulai dari pikiran (otak), kemudian dibunyikan lewat lisan. Sementara kegiatan menulis prosesnya diawali dari melihat (mata), kemudian dicerna (otak), dirasa (hati), baru dituangkan melalui tangan dalam bentuk tulisan.
Diawali tema seputar seluk beluk dunia kepenulisan, serta persoalan-persoalan klasik bagi penulis pemula seperti: kehabisan ide, kaya ide tetapi tak mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan dan banyak mempunyai tulisan tetapi tidak tau cara mengirimkannya pada media massa. Penulis pemula pada umumnya mempunyai ide atau gagasan yang meluap-luap. Tetapi ketika dituangkan dalam bentuk tulisan, hasilnya melebar dan tidak fokus. Ibaratnya ide sebesar gajah atau singa, tetapi produk yang dihasilkan sebesar tikus pun tidak. Menjadi seorang penulis terkenal, prosesnya antara penulis satu dengan yang lain berbeda-beda. Misalnya Pramudya Ananta Toer (Pram) harus mendekam di penjara selama bertahun-tahun —karena tulisannya berseberangan dengan rezim yang berkuasa— sebelum akhirnya menjadi penulis terkenal. Atau Joni Aryadinata yang sebelumnya hanya seorang tukang becak yang biasa mangkal di Malioboro. Tetapi, tinju seorang gali yang mendarat ke mulutnya telah mengubahnya menjadi penulis dan pembicara sastra yang disegani di negeri ini. Para penulis tersebut mempunyai kesamaan berupa motivasi yang tinggi dalam dirinya, pantang menyerah, ulet dan tabah. Tak kalah pentingnya sebelum terjun menjadi penulis adalah niat.
Menurut penulis buku ini, niat sangat menentukan karakter dan proses seseorang menjadi penulis di kemudian hari. Jika niatnya hanya sekedar mencari popularitas, atau hanya ingin tulisannya banyak dimuat di media dan mendapat uang, penulis tipe ini tidak akan bertahan lama. Tetapi seseorang yang menulis dengan disertai niat tulus, hati yang ikhlas serta kaya akan gagasan baru, bisa merubah dunia. Tulisannya akan abadi dikenang sepanjang zaman. Misalnya Rold Dahl dengan Trilogi Lord of the Rings, JK Rowling dengan Harry Potter, Karl Mark dengan Das Kapital-nya, Imam Ghazali dengan Ihya’ Ulumiddin-nya atau Pramudya Ananta Toer dengan Ken Arok-nya.
Selanjutnya dipaparkan cara membuat berbagai bentuk tulisan seperti cerpen, artikel, puisi resensi, feature, dan naskah drama disertai contoh-contohnya. Pembaca diajak untuk trampil menerapkan teori kepenulisan bukan sekedar menghafalkannya. Selain itu berbagai trik serta tips menulis kreatif juga disertakan dalam buku ini misalnya tips “jurus dewa mabuk” yang berisi strategi menulis hingga menjadi sebuah buku atau menembus media masa.
Kelebihan buku yang ada di tangan pembaca ini di antaranya: pertama, penulis buku ini sehari-harinya berprofesi sebagai pengajar pada Jogja Writing School (JWS) —sebuah institusi pendidikan yang bertujuan menghasilkan penulis-penulis berbakat— sehingga buku ini laksana “refleksi pengalaman nyata” penulisnya, bukan sekedar teori-teori tanpa fakta sebagai mana yang dijumpai dalam buku-buku sejenis.
Kedua, penulis buku ini sudah malang-melintang di dunia kepenulisan. Buku pertamanya Nasionalisme dan Cinta Iwan Fals sempat menjadi Best Seller di Jakarta, juga buku keduanya Dangdut Musik Rakyat adalah referensi utama bagi peneliti yang hendak menggali musik dandut. Tidak hanya sampai disitu, pembaca akan merasakan nuansa nyata dunia kepenulisan manakala membaca buku ini, dan buku ini layak dibaca para penulis pemula atau orang yang ingin terjun ke dunia kepenulisan.[] *) Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.
Nur Rahmaniah


Actor in a Leading Role
• Javier Bardem in “Biutiful”
• Jeff Bridges in “True Grit”
• Jesse Eisenberg in “The Social Network”
• Colin Firth in “The King's Speech”
• James Franco in “127 Hours”
Actor in a Supporting Role
• Christian Bale in “The Fighter”
• John Hawkes in “Winter's Bone”
• Jeremy Renner in “The Town”
• Mark Ruffalo in “The Kids Are All Right”
• Geoffrey Rush in “The King's Speech”
Actress in a Leading Role
• Annette Bening in “The Kids Are All Right”
• Nicole Kidman in “Rabbit Hole”
• Jennifer Lawrence in “Winter's Bone”
• Natalie Portman in “Black Swan”
• Michelle Williams in “Blue Valentine”
Actress in a Supporting Role
• Amy Adams in “The Fighter”
• Helena Bonham Carter in “The King's Speech”
• Melissa Leo in “The Fighter”
• Hailee Steinfeld in “True Grit”
• Jacki Weaver in “Animal Kingdom”
Animated Feature Film
• “How to Train Your Dragon” Chris Sanders and Dean DeBlois
• “The Illusionist” Sylvain Chomet
• “Toy Story 3” Lee Unkrich
Art Direction
• “Alice in Wonderland”
Production Design: Robert Stromberg; Set Decoration: Karen O'Hara
• “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1”
Production Design: Stuart Craig; Set Decoration: Stephenie McMillan
• “Inception”
Production Design: Guy Hendrix Dyas; Set Decoration: Larry Dias and Doug Mowat
• “The King's Speech”
Production Design: Eve Stewart; Set Decoration: Judy Farr
• “True Grit”
Production Design: Jess Gonchor; Set Decoration: Nancy Haigh
Cinematography
• “Black Swan” Matthew Libatique
• “Inception” Wally Pfister
• “The King's Speech” Danny Cohen
• “The Social Network” Jeff Cronenweth
• “True Grit” Roger Deakins
Costume Design
• “Alice in Wonderland” Colleen Atwood
• “I Am Love” Antonella Cannarozzi
• “The King's Speech” Jenny Beavan
• “The Tempest” Sandy Powell
• “True Grit” Mary Zophres
Directing
• “Black Swan” Darren Aronofsky
• “The Fighter” David O. Russell
• “The King's Speech” Tom Hooper
• “The Social Network” David Fincher
• “True Grit” Joel Coen and Ethan Coen
Documentary (Feature)
• “Exit through the Gift Shop” Banksy and Jaimie D'Cruz
• “Gasland” Josh Fox and Trish Adlesic
• “Inside Job” Charles Ferguson and Audrey Marrs
• “Restrepo” Tim Hetherington and Sebastian Junger
• “Waste Land” Lucy Walker and Angus Aynsley
Documentary (Short Subject)
• “Killing in the Name” Jed Rothstein
• “Poster Girl” Sara Nesson and Mitchell W. Block
• “Strangers No More” Karen Goodman and Kirk Simon
• “Sun Come Up” Jennifer Redfearn and Tim Metzger
• “The Warriors of Qiugang” Ruby Yang and Thomas Lennon
Film Editing
• “Black Swan” Andrew Weisblum
• “The Fighter” Pamela Martin
• “The King's Speech” Tariq Anwar
• “127 Hours” Jon Harris
• “The Social Network” Angus Wall and Kirk Baxter
Foreign Language Film
• “Biutiful” Mexico
• “Dogtooth” Greece
• “In a Better World” Denmark
• “Incendies” Canada
• “Outside the Law (Hors-la-loi)” Algeria
Makeup
• “Barney's Version” Adrien Morot
• “The Way Back” Edouard F. Henriques, Gregory Funk and Yolanda Toussieng
• “The Wolfman” Rick Baker and Dave Elsey
Music (Original Score)
• “How to Train Your Dragon” John Powell
• “Inception” Hans Zimmer
• “The King's Speech” Alexandre Desplat
• “127 Hours” A.R. Rahman
• “The Social Network” Trent Reznor and Atticus Ross
Music (Original Song)
• “Coming Home” from “Country Strong” Music and Lyric by Tom Douglas, Troy Verges and Hillary Lindsey
• “I See the Light” from “Tangled” Music by Alan Menken Lyric by Glenn Slater
• “If I Rise” from “127 Hours” Music by A.R. Rahman Lyric by Dido and Rollo Armstrong
• “We Belong Together” from “Toy Story 3" Music and Lyric by Randy Newman
Best Picture
• “Black Swan” Mike Medavoy, Brian Oliver and Scott Franklin, Producers
• “The Fighter” David Hoberman, Todd Lieberman and Mark Wahlberg, Producers
• “Inception” Emma Thomas and Christopher Nolan, Producers
• “The Kids Are All Right” Gary Gilbert, Jeffrey Levy-Hinte and Celine Rattray, Producers
• “The King's Speech” Iain Canning, Emile Sherman and Gareth Unwin, Producers
• “127 Hours” Christian Colson, Danny Boyle and John Smithson, Producers
• “The Social Network” Scott Rudin, Dana Brunetti, Michael De Luca and Ceán Chaffin, Producers
• “Toy Story 3” Darla K. Anderson, Producer
• “True Grit” Scott Rudin, Ethan Coen and Joel Coen, Producers
• “Winter's Bone" Anne Rosellini and Alix Madigan-Yorkin, Producers
Short Film (Animated)
• “Day & Night” Teddy Newton
• “The Gruffalo” Jakob Schuh and Max Lang
• “Let's Pollute” Geefwee Boedoe
• “The Lost Thing” Shaun Tan and Andrew Ruhemann
• “Madagascar, carnet de voyage (Madagascar, a Journey Diary)” Bastien Dubois
Short Film (Live Action)
• “The Confession” Tanel Toom
• “The Crush” Michael Creagh
• “God of Love” Luke Matheny
• “Na Wewe” Ivan Goldschmidt
• “Wish 143” Ian Barnes and Samantha Waite
Sound Editing
• “Inception” Richard King
• “Toy Story 3” Tom Myers and Michael Silvers
• “Tron: Legacy” Gwendolyn Yates Whittle and Addison Teague
• “True Grit” Skip Lievsay and Craig Berkey
• “Unstoppable” Mark P. Stoeckinger
Sound Mixing
• “Inception” Lora Hirschberg, Gary A. Rizzo and Ed Novick
• “The King's Speech” Paul Hamblin, Martin Jensen and John Midgley
• “Salt” Jeffrey J. Haboush, Greg P. Russell, Scott Millan and William Sarokin
• “The Social Network” Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick and Mark Weingarten
• “True Grit” Skip Lievsay, Craig Berkey, Greg Orloff and Peter F. Kurland
Visual Effects
• “Alice in Wonderland” Ken Ralston, David Schaub, Carey Villegas and Sean Phillips
• “Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1” Tim Burke, John Richardson, Christian Manz and Nicolas Aithadi
• “Hereafter” Michael Owens, Bryan Grill, Stephan Trojansky and Joe Farrell
• “Inception” Paul Franklin, Chris Corbould, Andrew Lockley and Peter Bebb
• “Iron Man 2” Janek Sirrs, Ben Snow, Ged Wright and Daniel Sudick
Writing (Adapted Screenplay)
• “127 Hours” Screenplay by Danny Boyle & Simon Beaufoy
• “The Social Network” Screenplay by Aaron Sorkin
• “Toy Story 3” Screenplay by Michael Arndt; Story by John Lasseter, Andrew Stanton and Lee Unkrich
• “True Grit” Written for the screen by Joel Coen & Ethan Coen
• “Winter's Bone” Adapted for the screen by Debra Granik & Anne Rosellini
Writing (Original Screenplay)
• “Another Year” Written by Mike Leigh
• “The Fighter” Screenplay by Scott Silver and Paul Tamasy & Eric Johnson;
Story by Keith Dorrington & Paul Tamasy & Eric Johnson
• “Inception” Written by Christopher Nolan
• “The Kids Are All Right” Written by Lisa Cholodenko & Stuart Blumberg
• “The King's Speech” Screenplay by David Seidler